Kupu-kupu terbang diatas
ilalang liar dan bunga.
Rintik hujan menyapanya dari atas langit.
"Sudahkah kau temukan hidupmu kupu-kupu cantik?"
Kupu-kupu terus melaju tanpa mejawabnya...
Rintik hujan menyapanya dari atas langit.
"Sudahkah kau temukan hidupmu kupu-kupu cantik?"
Kupu-kupu terus melaju tanpa mejawabnya...
Disebuah telaga kemudian ia hinggap,
Menyentuh jernihnya wajah air.
Air berucap "tahukah kau dulu siapa?"
Kupu-kupu terbang lagi tanpa menjawab tanya sang air,
Kupu-kupu mengepakkan sayapnya kembali dengan ceria.
Terbang kemanapun ia mau…
Terbang kemanapun ia suka…
Hinggap dimana pun ia ingin hinggap
Selalu ada yang menggetarkan hati saat ku melihat kupu-kupu…
Bukan kecantikannya,
Bukan kepandaian ia terbang,
Tapi karena ia berani melawan waktu tanpa banyak bertanya
Tanpa banyak menjawab.
"Ijinkanlah aku menjadi air Tuhan"
Seru kupu-kupu pada Tuhan.
"Aku ingin mengalir kesamudera, menguap menjadi awan hingga Engkau menenunnya menjadi serangkaian hujan"
Tuhan membisikkan sesuatu kepada kupu-kupu,
"Terima kasih Tuhan telah kau jadikan aku kupu-kupu yang cantik."
Kini kupu-kupu tahu dari mana ia berasal, dan mengapa ia terlahir cantik.
Ia berasal dari ulat yang melahap hijau dedaunan.
Suatu masa cinta merubahnya menjadi kepompong.
Benang benang putih dari tubuhnya diburu para penenun untuk menjadikannya kain yang terindah diseluruh dunia.
Ketika menjadi kepompong ia tersadarkan betapa Tuhan begitu mencintainya.
Tiba-tiba kulit kepompongnya terlepas,
Ia keluar dari kulit kepompong.
Tangan kanan dan kirinya diliputi selaput tipis yang mengembang
Lama kelamaan membesar dan terus membesar.
Seketika ia terheran mengapa setiap kali ia menggerakkan tangannya ia seakan terbang…
Terbang…
Terbang…
Terus terbang…
Ke atas…
Kekanan…
Kekiri…
Ia bisa melaju kemanapun ia suka.
Hatinya begitu tenang…
Begitu damai…
Benang benang putih dari tubuhnya diburu para penenun untuk menjadikannya kain yang terindah diseluruh dunia.
Ketika menjadi kepompong ia tersadarkan betapa Tuhan begitu mencintainya.
Tiba-tiba kulit kepompongnya terlepas,
Ia keluar dari kulit kepompong.
Tangan kanan dan kirinya diliputi selaput tipis yang mengembang
Lama kelamaan membesar dan terus membesar.
Seketika ia terheran mengapa setiap kali ia menggerakkan tangannya ia seakan terbang…
Terbang…
Terbang…
Terus terbang…
Ke atas…
Kekanan…
Kekiri…
Ia bisa melaju kemanapun ia suka.
Hatinya begitu tenang…
Begitu damai…
Hingga sang hujan dan wajah air bertanya,
"taukah
kau siapa dirimu? Darimana kamu berasal?"
Ia tak ingin bertanya baginya pertanyaan hidup hanya layak dijawab dengan sebuah perjalanan.
Dan perjalanan demi perjalanan membawanya kepada jalan Tuhan.
Hingga Tuhan membisikannya
Ia tak ingin bertanya baginya pertanyaan hidup hanya layak dijawab dengan sebuah perjalanan.
Dan perjalanan demi perjalanan membawanya kepada jalan Tuhan.
Hingga Tuhan membisikannya
"Jangan pernah
mempertanyakan hidupmu, jalani semuanya dengan ketulusan dan rasa syukur.
apapun yang terjadi akan demikian indah . Perjalanan diciptakan agar kamu mengerti kemana arah angin, bagaimana mengatasi badai, dimana harus hinggap, dan kapan kau harus terbang setinggi tingginya, bersembunyi dari pemangsamu"
apapun yang terjadi akan demikian indah . Perjalanan diciptakan agar kamu mengerti kemana arah angin, bagaimana mengatasi badai, dimana harus hinggap, dan kapan kau harus terbang setinggi tingginya, bersembunyi dari pemangsamu"
"Begitupun hidupmu"
aku berkata pada diriku..
Dengarkanlah selalu bisikan Tuhan dihatimu...
percayalah Ia akan menuntunmu ke jalan yang membahagiakanmu.
0 comments:
Post a Comment