Monday, March 24, 2014
Namaku Lidah
Kau namakan aku lidah...
tak seorang perlu memukul-mukul kentong,
mengundang tetangga,
membagi-bagikan bubur merah.
nama itu cukup indah
tak cuma mengelendot dalam gendongan
tak cuma semampir sebagai sebutan
karena memang daging,
karena adalah darah akan kupikul dari kosong ke arah dari diam ke langkah.
ingin kubaca riwayat diri dalam huruf-huruf terawang dari lidah
kulepas lebah ke bunga-bunga,
kuantar bunga ke wajah-wajah
agar di rongga-rongga telinga atau entah lorong waktu yang menganga
aku bukan cuma udara, aku bukan cuma suara,
apalagi ludah yang suka terbuang percuma.
syukur bila aku energi atau cahaya.
karena itu ketika lidah lain mulai terjulur ke mana-mana,
aku malah sedang berdoa :
”Duhai Yang Maha Kuasa, izinkan aku melupa ruang kembara sejenak saja terbaring tanpa kata, tanpa dosa di ranjangku satu-satunya.”
lelah memandangi langit-langit mulut dan deretan gigi,
aku pun lirih bicara dalam rongganya yang sepi :
”Di sini. Aku bukan burung Necrophily yang mengembangkan sayap-sayap jadi langit gurun-gurun bahasa. Tapi tak akan kusalahkan ia yang mengenali: aku sepatu musafir yang telah kembali dari benua yang direntangnya seorang diri antara usia, kehadiran, dan sepi.”
karena itu ketika lidah dan api di luar terus terjulur-julur,
saling membelit dan tak punya beda lagi,
buru-buru aku kembali mengingat lidah dan api di dalam diri.
(tubuh #2)
0 comments:
Post a Comment