andai saja dari dulu aku tahu
bahwa kurun waktu kulalui takkan ada artinya
bilasaja senyum dan gurat usia yang tersemat diwajahnya
tak hinggap dimimpiku semalam
andai saja dari dulu aku tahu,
keringat yang sering membuih di dahinya
noda baju yang sering ia lukiskan di daster kusamnya
dan celoteh ricuhnya yang sering ku keluhkan itu
bukan tanpa alasan
sehingga kini aku duduk di meja raja sebuah istana ekonomi
akan tetapi aku lupa akan itu
jika saja dari dulu aku mengerti
senyum sayangnya tak kala ku di ayun di pangkuannya
ku ditimang sembari bernyanyi lagu sayang
ku di usap sambil sekali do'a terucap dari bibir bergetarnya
pandangan matanya ...
sayu kelopak matanya berat untuk terjaga membuatku tertidur
dalam rangkulannya
meski kadang aku menangis
dia meraba halus pipiku terkadang menciumnya
maka aku lelah dalam buaiannya
teringat ketika ia memarahiku
saat tak sengaja kulempar sebuah ucapan binatang jalang
ku ditampar dengan tetes air mata keluar dari selaput dua buah matanya itu
ia menangis, dengan penuh ketidaktahuanku
ia tetap meminta maaf dan mengusap rambut ikalku
itu dia, dengan semangatnya membuatku tumbuh tiap centi hingga umurku sudah mendekati mati
dengan gigihnya mendidikku walau aku banyak membuat dia sakit hati
dia
Ya memang dia yang sengaja mengingatkan segala kesalahanku
menciumku ketika aku sedang gusar hati, tenang
oh Tuhan, andai saja ketika itu,
saat dia hendak naik kencana yang Kau khususkan padanya
aku bisa menggenggam tangannya
berbalik menciumi dia
mengusap peluh keringat dia ketika bersinggung dengan pesuruhMu yang hendak menantarkan dia menuju tempatMu
Tuhan, maafkan saya terlalu sibuk mengincar rupiah dan sibuknya putaran dunia
sehingga aku lupa ada dia yang harusnya aku jaga
balas kasih dia yang selama semenjak aku sebesar kepalan hingga aku bisa mengepalkan tangan sebesar dosa aku padanya
Tuhan ...
sekarang didepanku tersemat sebuah nama yang terukir di batu berhiaskan keramik
dengan rumput liar di atas kuburnya itu
kutaburkan bunga indah warna warni
semerah pipinya yang bahagia ketika menggendongku
seputih wajahnya yang bak malaikat menjagaku
yang kekuningan seperti kuit tangannya ketika megnhapus air mataku
yang biru seperti bola matanya saat menatap teduh wajahku
kini hanya Bunga yang bisa kutaburkan di atas tubuhnya
tubuh yang terhalang tanah merah
yang terhalang alam barkah
namun rasa sayangnya seolah menjadi jembatan
agar kuat do'a ini menjalar ke tempat ia berada sekarang
aku sayang Ibu, bunga ini untukmu
bahwa kurun waktu kulalui takkan ada artinya
bilasaja senyum dan gurat usia yang tersemat diwajahnya
tak hinggap dimimpiku semalam
andai saja dari dulu aku tahu,
keringat yang sering membuih di dahinya
noda baju yang sering ia lukiskan di daster kusamnya
dan celoteh ricuhnya yang sering ku keluhkan itu
bukan tanpa alasan
sehingga kini aku duduk di meja raja sebuah istana ekonomi
akan tetapi aku lupa akan itu
jika saja dari dulu aku mengerti
senyum sayangnya tak kala ku di ayun di pangkuannya
ku ditimang sembari bernyanyi lagu sayang
ku di usap sambil sekali do'a terucap dari bibir bergetarnya
pandangan matanya ...
sayu kelopak matanya berat untuk terjaga membuatku tertidur
dalam rangkulannya
meski kadang aku menangis
dia meraba halus pipiku terkadang menciumnya
maka aku lelah dalam buaiannya
teringat ketika ia memarahiku
saat tak sengaja kulempar sebuah ucapan binatang jalang
ku ditampar dengan tetes air mata keluar dari selaput dua buah matanya itu
ia menangis, dengan penuh ketidaktahuanku
ia tetap meminta maaf dan mengusap rambut ikalku
itu dia, dengan semangatnya membuatku tumbuh tiap centi hingga umurku sudah mendekati mati
dengan gigihnya mendidikku walau aku banyak membuat dia sakit hati
dia
Ya memang dia yang sengaja mengingatkan segala kesalahanku
menciumku ketika aku sedang gusar hati, tenang
oh Tuhan, andai saja ketika itu,
saat dia hendak naik kencana yang Kau khususkan padanya
aku bisa menggenggam tangannya
berbalik menciumi dia
mengusap peluh keringat dia ketika bersinggung dengan pesuruhMu yang hendak menantarkan dia menuju tempatMu
Tuhan, maafkan saya terlalu sibuk mengincar rupiah dan sibuknya putaran dunia
sehingga aku lupa ada dia yang harusnya aku jaga
balas kasih dia yang selama semenjak aku sebesar kepalan hingga aku bisa mengepalkan tangan sebesar dosa aku padanya
Tuhan ...
sekarang didepanku tersemat sebuah nama yang terukir di batu berhiaskan keramik
dengan rumput liar di atas kuburnya itu
kutaburkan bunga indah warna warni
semerah pipinya yang bahagia ketika menggendongku
seputih wajahnya yang bak malaikat menjagaku
yang kekuningan seperti kuit tangannya ketika megnhapus air mataku
yang biru seperti bola matanya saat menatap teduh wajahku
kini hanya Bunga yang bisa kutaburkan di atas tubuhnya
tubuh yang terhalang tanah merah
yang terhalang alam barkah
namun rasa sayangnya seolah menjadi jembatan
agar kuat do'a ini menjalar ke tempat ia berada sekarang
aku sayang Ibu, bunga ini untukmu
0 comments:
Post a Comment