“Lho? Bayi siapa ini?” tanya Parmin saat menemukan sebuah kardus
tergeletak di pos penjagaan saat kami ronda malam ini. Kardus yang
ternyata berisi seorang bayi mungil.
Kami mendekati kardus bekas air mineral yang dipenuhi kain untuk
menghangatkan si bayi, sementara bayi laki-laki di dalamnya sedikit
membiru kedinginan.
“Kita laporkan Pak RT saja ya Man?” Parmin bertanya saat aku menatap
penasaran sang bayi dalam kardus air mineral di hadapan kami. Entah
mengapa, tatapannya langsung membiusku. Dan anehnya, bayi tadi juga
balas menatapku.
“Man! Ditakoni kok ndadak nglamun?! Huuh..!” (Man, ditanya kok malah ngelamun)
Parmin mencibirku. Setelahnya ia menghilang dari pandangan, tepat
saat kutemukan secarik kertas di bawah tubuh hangat sang jabang bayi.
Kubaca perlahan secarik kertas yang membuatku sedikit penasaran.
“Mas Arman,
Aku titip anak kita. Ya, bayi ini anakmu, Mas. Aku sengaja tak memberitahumu tentang kehamilanku selama ini. Aku cuma menjaga perasaan Yuni. Hatinya pasti hancur mengetahui hubungan terlarang kita malam itu. Tapi kali ini, aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan pada bayi ini. Aku mohon, jaga dia untuk kita. Dan aku akan selalu mengenangmu, Mas Arman. Titip thole (panggilan untuk anak laki-laki). Jaga dia baik-baik.”
Aku tercekat. Menatap bayi merah di hadapanku. Bayi yang sorot matanya selalu membuatku terpana. Itu sorot mata Seruni.
Suara rintik hujan mengguyur atap pos penjagaan. Dan sekelebat memori
berputar di benakku. Kenangan yang berhubungan dengan hujan, nyaris
setahun yang lalu.
Saat itu di pos penjagaan ini udara sangat dingin menggigil. Namun
hati dan tubuh kami terasa hangat. Ketika Seruni berada dalam dekapanku,
sesaat setelah kami mencapai puncak kenikmatan bersama-sama.
0 comments:
Post a Comment