malam,
tenangkan gemuruh dadaku ini pada keabadian yang absurd
yang terlanjur tertanam pada bilik-bilik memar paling diam
paling sunyi
pada keramahanmu,
aku mempelajari kegelisahan
yang membelai ingatan
seperti kepik-kepik biru,
terbang rendah pada kelopak mata Dewi Uma – elok
malam,
kuatkan aku,
berikan aku penglihatan lewat bintang-bintangmu
bantu aku mendengar lewat gemuruh angin lautmu
bantu aku membacanya
ribuan jejak kedatanganmu hanya ilusi,
yang kini terhapus oleh titik gerimis
mengabur pada langit-langit temaram,
pada lembutnya ingatan kelam – dingin
“rindu, jamahlah aku, tahirkan aku sebisamu, seperti redup cahaya purnama
seperti riak kecil ditengah telaga, yang tenang namun menghanyutkan”
dikau sang pemamah keberanian,
yang hidup diantara ironi dan keseriusan
diantara langit dan bumi
basuh aku lewat garis sutra keemasan selendang waktumu
dimana hanya ada aku dan kamu serta semesta
0 comments:
Post a Comment