aku lahir
kuberikan semesta tangisku
darah mengalir
dari kerja melahirkan luka
jadi sampan
mengalirkan sang pahlawan
ke asal darah
beku
dalam kehangatan airmata
maka, ketika aku kembali
bordil tua itu memberiku tangis
membaringkanku dalam api peti es
aku baca diriku
roh piatu remuk redam
cium rindu dendamku
pada matahari tua
tersangkut ditengah ilalang, panen buah airmata
penjaga sawah ladang menghalau burung migrasi
kabarnya tentang kemarau
aku baca diriku
aku baca diriku pada dirimu
menunggu seekor anjing terluka
berlari mengoyak bau busunya
bersulang sebuah kubangan darah
ditempat pembuangan akhir dalam jiwa
dimana duka membasuh diri
menjadi diriku
dari keris ditanganku
bunga api melahirkanmu
jamahlah kegelapan dalam cahaya
bau singit yang membusuk dari bunga mawar
aku pinang nasibmu dengan nasibku
kenakan wajahku pada wajahmu
kenakan cincin akik ini dijari manismu
dalam lingkaran benda-benda mati
nyalakan lilin dalam api membakar
perhelatan ini berlangsung tanpa bimbingan
di bawah cahaya bulan bintang
tanpa mas kawin,
dengan gemetar kuusap uap tanganmu
terima kasihku,
kau pelihara jiwa yang sebatangkara
sedap malam di taman bunga bawah laut
tanpa pamrih
sampan berlabuh disenantero dirimu
hati yang buta warna tumbuhkan diri
bagaimana kutulis ombak dengan sajak
aku belum pernah mabuk air garam
0 comments:
Post a Comment