Pages

Friday, December 26, 2014

Surat Terbuka Kepada Rindu

Surat terbuka kepada rindu

Selamat pagi
Kenalkan aku pemilikmu beberapa hari terakhir
Saat ini pukul lima pagi di Sydney
Matahari masih nampak sepi menyendiri
Akhir akhir ini kamu tahu kalau aku terganggu dengan hadirmu yang menggebu-gebu?
Antara bahagia dan lara.
Bukan rindu soal jarak antara tempat yang satu dengan yang lain
Tapi jarak ini soal rasa, memisahkan cinta dengan tidak sama sekali
Entah
Dan bukan jarak yang membuat kita semakin menjauh, tapi sikapmu
Rindu, pernah merasakan apa yang kurasakan sekarang?
Coba tengok ke dalam, iya disini, hati
Berkali dia jatuh terkeping dan akhirnya terkunci untuk sekian lama tanpa ada yang bisa masuk kesana
Namun saat dia terbuka, kembali jatuh terkeping jadinya.
Mungkin aku memang harus menikmati kesendirianku sekarang, di negeri orang, berkutat dengan tugas, lelah dengan pekerjaan, otak bekerja sepanjang hari, dan tak lagi merasakan sakit disini.
Tangis memang membingungkan
Saat kau menangis atau bersedih kemudian ditepuk lalu dikuatkan, semakin menjadi jadi tangis itu kan?
Lalu saat kau menangis dan ada seorang yang memelukmu disana? Semakin menjadi jadi juga kan tangis itu?
Aku mulai banyak diam seperti dulu
Menyimpan luka
Menyimpan lara
Menyimpan segala
Bukan rahasia, aku hanya tak mau orang lain khawatir
Tapi siapa yang akan khawatir? Orang yang kuperjuangkan mati matian sekarang sudah sibuk dengan orang lain dan dia sudah punya orang orang yang pantas ia bangga banggakan, bukan aku. Iya aku, yang selalu mendapat tanggapan itu itu saja.
Rindu, kau bawa aku berjalan sejauh ini tanpa peta lalu meninggalkanku begitu saja, apa itu tak kau sebut tega?
Rindu, kau tak pernah sampaikan sesuatu, bagaimana aku tahu?
Rindu, apa kau mengerti jika hati ini lelah dan sudah terkeping pecah?
Aku memang bukan pilihan.
Bahkan aku bukan sebuah jawaban dari pertanyaan Tuhan
Mungkin hati ini akan terkunci lagi dan entah sampai kapan
Jujur, aku lelah terluka
Aku sudah berkata kata sampai semesta bosan
Tapi? Memang mungkin kau tak mengerti bagaimana menjadi aku
Rindu, sebenarnya aku tak berhak tahu apapun atasmu ataupun mengaturmu ini itu
Sekarang melihatmu baik baik saja itu sudah bahagia
Memang, memeluk tak harus dengan lengan, bisa dengan doa
Rindu
Setiap mata berhak untuk menahan air mata. Setiap hati berhak menahan rasa sakit. Menahan tak mengungkapkan itu .......
Entahlah,
Rindu
Harusnya kita bisa satu, tapi kamu punya hati yang terlalu bebas, yang tidak ingin kau berikan hanya pada satu orang
Pada akhirnya, ketika kaubersama yang lain, aku hanya diam dan tak bisa menuntut banyak. Lalu, menyembunyikan .
Rindu
kamu pernah cemburu pada seseorang yang tak kaumiliki? pada seseorang yang tak pernah mengharapkanmu?
Rindu
Kupikir tak butuh lagi alasan, mengapa air mata dan hati yang berserakan selalu ada ketika aku memikirkanmu.
Lakukanlah sesukamu dan keping kepingkan perasaanku kapanpun.
Suka?
Bahagia?
Syukurlah :)
Aku-tidak-apa-apa-:)

Dari aku yang berjuang lalu kau sia-siakan, ingat?

Sydney,
2014

0 comments:

Post a Comment